Orang Utan |
|||||||||||||||
Bertemu "Kerabat" di Camp Leakey
[1] WIN dan Siswi malu-malu saling mendekat, sebelum kemudian mulai bermesraan. Kami, sekitar tiga meter dari mereka, menahan diri agar tidak mengganggu suasana di senja hari itu. Sungguh, pengalaman pertama kali bagi sebagian besar dari kami! [2] Namun, tak lama kemudian Siswi meninggalkan Win. Win pun cuek berjalan ke arah yang berlainan, menuju panggung papan tempat makan sorenya. [3] Win dan Siswi adalah dua dari ribuan orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang hidup di belantara Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kalimantan Tengah. Kami melihat kehidupan liar mereka di Camp Leakey, cikal bakal penelitian dan rehabilitasi orang utan di Indonesia. [4] Menurut Fat, salah satu staf penelitian Camp Leakey di kawasan TNTP, orang utan tidak akan tuntas bercumbu kalau ada penontonnya. [5] "Semakin lama bergaul dengan orang utan semakin tampak kemiripannya dengan manusia. Ada yang pemarah, baik hati, pemalas," katanya. [6] Orang utan betina yang baik, tak segan-segan mengasuh, mendidik, memberi contoh memilih makanan, dan membuat sarang bagi si kecil. Namun, tidak jarang ada yang judes; tidak suka didekati orang utan kecil, bahkan merebut makanan yang dipegangnya. [7] Betina baik hati akan rela berperan sebagai ibu orang utan kecil yang yatim piatu. Di pihak lain, pejantan dengan sifat yang baik akan melindungi orang utan kecil dari gangguan orang utan dewasa yang usil. Sifat-sifat yang menguatkan teori Darwin bahwa mereka masih kerabat dekat dengan manusia. [8] Para pengasuh orang utan di Camp Leakey, biasa memanggil orang utan yang telah dibebas-liarkan dengan memanggil namanya, bila mereka mendatangi kamp. Ada Uranus, Kosasih, Kris, Pedro, Unyuk, dan Sammy, selain Win dan Siswi. [9] Taman Nasional Tanjung Puting, tempat kami bertemu orang utan itu, tahun 1993 ditetapkan Departemen Kehutanan sebagai taman nasional. Luasnya sekitar 415.040 hektar dan berada di dua kabupaten, Kotawaringin Barat dan Seruyan. [10] Hingga 1990, ratusan orang utan telah direhabilitasi dan dilepaskan di TNTP. Orang utan Foundation Internasional (OFI) bekerja sama dengan pemerintah mendirikan Pusat Perawatan dan Rehabilitasi Orang utan di Pasir Panjang, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
[12] BERSAMA sejumlah wartawan dari Jakarta, Kompas awal Agustus 2004 berkunjung ke Camp Leakey didampingi staf Yayasan Orang utan Indonesia (Yayorin) dalam program Nokia Connects with Nature. [13] Kami ber-speed boat melintasi Teluk Kumai, sekitar lima belas kilometer dari Pangkalan Bun, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Barat. Untuk mencapai Camp Leakey, dibutuhkan waktu satu jam. Dengan perahu kelotok sewaan, lebih lama lagi, 3-4 jam. [14] Dari Pulau Jawa, Pangkalan Bun dapat dicapai dengan pesawat atau kapal laut. Pesawat yang melayani adalah Deraya dan Kalstar dari Bandara Ahmad Yani, Semarang. Kapal laut berlayar dari Tanjung Perak, Surabaya, dan Tanjung Mas, Semarang. [15] Hawa panas yang menyengat, tak terasa begitu lebih dalam ke kawasan TNTP, melalui Sungai Sekonyer di sisi utara. Kerimbunan pohon hutan hujan tropis bagai payung teduh mengusir terik matahari. Di kanan kiri sungai, berbagai jenis tanaman rawa tumbuh lebat. [16] Owa-owa (Hylobates agilis) dan bekantan (Nasalis larvatus), tak terlihat di siang hari. Di sore hari, mereka beraksi di ketinggian pohon ditingkahi suara-suara binatang hutan dan burung-burung liar. [17] Di bagian luar TNTP, berdiri pos-pos polisi antipenebangan liar dan penambangan liar. Di atas pondok kayu sederhana, para sukarelawan yang dibayar OFI sebesar Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per hari (bukan per bulan) bergantian jaga. [18] Sejak 2001-2002, penebangan liar di kawasan TNTP, khususnya yang berada di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat, mampu ditekan. Namun, di hulu Sekonyer penambangan emas tanpa izin (PETI) masih terus merusak lingkungan. [19] Penambangan liar itulah yang sejak tahun 2001 mengeruhkan Sungai Sekonyer. Namun, kekeruhan itu tak lagi dijumpai setelah perahu berbelok di simpang tiga kanan Sungai Sekonyer. Di sanalah titik pertemuan air keruh kecoklatan dengan warna asli air Sekonyer, yang bening kehitam-hitaman. [20] Setelah sekitar satu jam, speed boat mendarat di dermaga kayu Camp Leakey. Perjalanan dilanjutkan meniti papan kayu ulin sepanjang 300 meter tiba di kamp penelitian.
[21] Di kamp inilah, aktris tenar Julia Robert pernah bermain dalam film berdurasi satu jam tentang kehidupan orang utan di alam liar. Orang utan jantan bernama Kosasih, beruntung berpasangan dengan Julia. [22] Oleh staf Camp Leakey, Kosasih dikenal sebagai pejantan tangguh yang menjadi "raja". Saingan beratnya adalah Win, bukan hanya soal teritorial namun juga simpati betina "tercantik" di TNTP, Siswi. [23] Untuk melihat tingkah polah orang utan di TNTP, setidaknya ada dua lokasi pertemuan yang umum terjadi. Di kamp tempat penyimpanan makanan, sekaligus kantor OFI dan di tempat pemberian makanan yang berjarak sekitar 1,5 kilometer. [24] Lokasi pemberian makanan dapat ditempuh berjalan kaki meniti kayu ulin di tengah kerimbunan hutan. Selama perjalanan, Anda dapat melihat aktivitas orang utan yang sedang mencari makan atau bertengger di sarangnya. [25] Lokasi lain yang dapat dikunjungi untuk melihat orang utan dan satwa liar, selain di Camp Leakey adalah Pos Tanjung Harapan dan Pondok Tanggui. Ada beberapa alternatif penginapan untuk bermalam, seperti di Hotel Rimba Lodge di TNTP, Hotel Ecolodge di tepi Sungai Sekonyer, atau di wisma tamu TNTP. [26] SAYANG, populasi orang utan terus menyusut seiring perilaku manusia. Pengurangan luasan hutan menjadi inti dari seluruh persoalan, baik karena penebangan liar, penambangan liar, maupun konversi lahan. [27] Populasi orang utan di hutan Kalimantan diperkirakan sekitar 58.000 ekor dan orang utan Sumatra (Pongo abelii) di hutan Sumatra diperkirakan tinggal 7.000 ekor. [28] Jumlah tersebut diperkirakan akan terus menyusut 1.000 ekor per tahunnya. Tanpa upaya serius, maka manusia hanya akan melihat orang utan di habitat palsunya: kebun binatang. (GESIT ARIYANTO) [1] TNTP is the subject of the sentence, termasyhur the predicate: 'The TP National Park is famous'. Both subject and predicate are complemented by prepositional phrases.
|
|||||||||||||||